Bertemu, Berikrar dan Menentukan Arah

img_20170103_174540

Iri.
Itu adalah kesan pertama tentang buku ini. Kenapa? Bukunya kan bagus, dikarang oleh sepasang suami istri sebagai kenang-kenangan pernikahannya. Nah, karena itu. Saya merasa dilewati nih. Dulunya saya punya impian yang sama seperti mereka, saya pengin punya buku yang dikarang berdua oleh (calon) pasangan saya kelak. Buku yang menceritakan perjalanan kami, mulai dari awal bertemu hingga akhirnya memutuskan untuk berkomitmen menjadi pasangan suami istri. Tapi, ide ini sudah diambil duluan oleh Kurniawan Gunadi dan istrinya. Ah, apalagi hasil penjualan bukunya didonasikan untuk amal. Gimana gak iri, amalan baik seperti itu kan jarang sekali dilakukan di masa sekarang ini. Yang ada malah mewah-mewahan pesta pernikahan. Yah, emang beda sih.

Tidak seperti Hujan Matahari dan Lautan Langit, Menentukan Arah saya dapatkan di cetakan yang kedua. Awalnya saya pikir, buku ini hanya diterbitkan sekali saja sebagai kado pernikahan. Tapi, Kurniawan Gunadi dan sang istri sangat baik mau mencetak ulang dan membagi ceritanya kepada penikmat tulisannya, saya contohnya.

Menentukan Arah terbagi menjadi beberapa bab yang lebih banyak dibandingkan buku sebelumnya. Yaitu, Makna Pernikahan, Berjuang, Pencarian, Sepakat, Perayaan, Pasangan, Keluarga, Anak, Harta, Rumah, Menentukan Arah dan Jejak-jejak Perjalanan. Di bagian belakang, buku ini juga menyajikan kumpulan kutipan-kutipan yang menarik untuk dibaca.

Karena dibuat oleh dua orang yang berbeda, tentu gaya bahasa dari tiap cerita juga berbeda. Apalagi bagi penikmat tulisan Kurniawan Gunadi, pasti sudah paham bagaimana caranya dalam bercerita. Meskipun begitu, ada keterangan nama penulis yang memudahkan pembaca untuk mengidentifikasi apakah ini tulisan Kurniawan Gunadi atau istrinya.

Ada tiga judul tulisan yang paling saya suka: Tak Ada Janji, Laki-laki yang Kamu Cari dan Perempuan-perempuan yang Bersyukur.

Tak Ada Janji menawarkan ungkapan hati seseorang yang tidak bisa menjanjikan kesenangan dunia kepada (calon) pasangannya, namun dia berjanji untuk mengiringi langkah pasangannya untuk berjuang dan bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik.

Sedangkan, Laki-laki yang Kamu Cari, tulisan ini seolah-olah Kurniawan Gunadi membuka rahasia kaumnya. Memang, memilih pasangan bukanlah hal yang mudah. Melalui tulisan ini, saya bisa tau kalau laki-laki yang bertanggungjawab tidak akan pernah membiarkan perempuan yang dicintainya hidup susah, tau siapa saja yang berhak atas harta yang dia dapatkan, dan yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Perempuan-perempuan yang Bersyukur dimulai dari obrolan singkat seorang anak lelakinya yang membahas tentang sosok perempuan yang paling disukai ibunya. Dari yang awalnya tidak paham dengan jawaban sang ibu, si anak akhirnya paham bahwa perempuan yang bisa menerima dan bersyukur terhadap apa yang dimiliknya adalah sosok paling cantik yang bisa mengiringi langkah pasangannya, baik di saat kurang maupun lebihnya.

Dan yang terakhir buku ini ditutup dengan sangat apik dengan kata-kata indah dari Mutia Prawitasari :

Berterimakasihlah kepada yang pernah datang dan mengetuk pintu hatimu.
Dia adalah orang baik yang mau memperjuangkanmu,
bahkan saat kamu tidak percaya kamu layak diperjuangkan.
Berterimakasihlah kepada yang melepaskanmu.
Dia adalah orang baik yang tak ingin terus berdiri di depan pintu dan menghalangi yang kelak membukanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s