Masuk dan Tenggelam di Lautan Langit

img_20170103_175020Tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan.

Kutipan pertama yang membuat saya terkesan untuk membaca buku kedua Kurniawan Gunadi yang berjudul Lautan Langit. Mengapa harus dinamakan Lautan Langit?

Melalui lembaran pengantar “Sepertiga Malam” seakan mendeskripsikan makna Lautan Langit itu sendiri.

Lautan dan langit itu sama-sama luas, sama-sama tak bertepi. Keduanya tidak bisa kita ukur dengan satuan. Lautan dan langit itu sama-sama biru, padahal kita sama-sama tahu bahwa sebenarnya keduanya jernih, bening, tanpa satu warna pun ada di dalam dirinya.

Bisakah kesabaran kita seluas lautan? Bisakah hati kita sejernih langit? Kalau pun suatu saat kita melihatnya berubah warna karena terpaan sinar matahari, bisakah warna itu memberikan keteduhan dan kenyamanan bagi siapa pun yang memandangnya? Sebagaimana hati kita, bisakah warna yang lahir darinya adalah warna kebaikan yang tulus, ikhlas, dan bisa dirasakan oleh hati orang lain?

Setiap kali membaca tulisan karya Kurniawan Gunadi, saya merasa menjadi bagian di dalamnya. Kadang saya diajak berimajinasi memainkan peran dalam ceritanya. Kadang saya pun ikut belajar memaknai setiap pelajaran yang terkandung pada tulisan pendeknya. Dan kadang kejujurannya dalam bercerita mewakili perasaan saya sebagai seorang perempuan yang kerapkali disembunyikan.

Seperti buku sebelumnya, buku ini terdiri dari tiga sesi yaitu Pagi, Siang dan Sore. Dari sekian tulisan, ada beberapa yang maknanya mengena buat saya, sebenarnya masing-masing cerita sarat makna, hanya saja tulisan berjudul Sederhanakan, Menjaga Kehormatan dan Ayah dan Kata Cintanya yang Dingin –lah yang bikin saya, “Bener nih!”

Sederhanakan. Sesuatu yang berlebihan, Sederhanakanlah! Kita tidak membutuhkan banyak hal untuk suatu keberkahan. Kita tidak perlu menghambur-hamburkan banyak waktu untuk kesenangan, bahkan untuk kenangan. Itu adalah paragraf pertama dari tulisan yang mencuri perhatian saya sejak awal buku ini terbit. Betapa lemahnya seorang manusia, saya khususnya, yang tidak bisa mengukur kadar kecukupan dalam hidupnya. Terus merasa kurang dan ingin berlebih-lebihan. Dan melalui tulisan ini, Kurniawan Gunadi membuka pola pikir saya untuk hidup sederhana dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

Selanjutnya adalah Menjaga Kehormatan. Poin yang menarik adalah Saat aku berproses nanti, aku berprinsip untuk tidak menyebut nama perempuan yang kutuju secara sembarangan kepada orang lain. Ini menurutku penting. Bukan soal aku tidak mau mengakuinya, tapi ini caraku untuk melindunginya (juga melindungiku) dari fitnah, ataupun dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan. Sebagai seorang perempuan yang pemahamannya masih dangkal, tidak dapat dipungkiri bahwa keinginan untuk diakui oleh pasangan itu pasti ada. Tapi mengetahui bahwa ada lelaki baik yang berusaha menjaga diri kita dari fitnah dengan cara tidak mengumbar bentuk usahanya untuk berproses dengan kita kepada orang lain, yang seperti ini rasanya gak bisa diungkapin dengan kata-kata. Takjub!

Dan yang terakhir adalah mengenai Ayah dan Kata Cintanya yang Dingin. Bagi saya, hubungan antara seorang Ayah dan anak (perempuan khususnya) itu cukup unik. Ayah yang diketahui sangat tegas, dingin dan tidak banyak cakap, namun dibalik itu semua, Ayah adalah sosok terdepan saat anaknya disakiti, pun saat anaknya mulai merasakan jatuh cinta. Cinta ayah bukanlah bentuk cinta yang diumbar dengan kata-kata. Lebih dari itu, seorang ayah mewujudkannya dengan tingkah laku dan perbuatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s