Finding Forrester

“In an Ordinary place, he found the one person to make his life extraordinary” Di tempat yang biasa, dia menemukan seseorang yang membuat hidupnya luar biasa. Itulah tagline dari film yang disutradai Gus Van Sant yang berjudul Finding Forrester. Film ini berkisah tentang seorang anak laki-laki berusia 16 tahun bernama Jamal Wallace yang tinggal di kawasan Bronx. Sepeninggal ayahnya, dia menghabiskan banyak waktunya untuk membaca, menulis dan bermain basket. Suatu ketika, dia mendapat tantangan untuk mengambil barang di apartemen yang dihuni oleh seseorang yang diisukan sebagai pembunuh di tempatnya tinggal. Disebut demikian karena gerak-geriknya dianggap mencurigakan dan suka mengawasi anak-anak yang sedang bermain basket melalui teropong di jendela kamarnya.

Akhirnya Jamal menyanggupi tantangan untuk menyelinap ke apartemen tersebut. Tanpa disadari Jamal, pemilik apartemen mengawasi dan mengagetkannya yang sedang asik melihat ke sekeliling ruangan yang penuh dengan buku. Dia pun kabur dan meninggalkan tas yang berisi bukunya di apartemen tersebut.

Keesokan harinya, Jamal mendapatkan tasnya kembali. Semua isinya masih lengkap, tapi dia menemukan coretan-coretan pada bukunya. “Constipated ThinkingPikiran Sempit, “This Passage Fantastic” Bagian ini fantastis, “Words Cheap” Kekurangan kata-kata, dan lain-lain.

Rasa penasaran membuat Jamal kembali ke apartemen itu. Singkat cerita, dia akhirnya berteman dan belajar cara menulis dengan pemilik apartemen yang ternyata adalah seorang penulis terkenal yang sudah lama menghilang, William Forrester. Hingga akhirnya dia mendapat tawaran beasiswa untuk  belajar di salah satu sekolah terbaik di Manhattan. Disana, dia bergabung di tim basket dan berteman dengan seorang perempuan bernama Claire.

Konflik mulai muncul ketika tulisan Jamal dianggap sebagai hasil karya plagiat dan dia mempermalukan gurunya, Profesor Crawford, saat mengajar di depan kelas. Hal itulah yang memicu pihak sekolah untuk mencabut beasiswa Jamal.

Film ini cukup inspiratif karena dialognya cukup padat dan berisi, serta mengajarkan tentang cara menulis.

“You write your first draft with your heart and you rewrite with your head. The first key to writing is to write. Not to think.” Tulislah lembaran pertamamu dengan hati dan tulis kembali berikutnya dengan kepalamu. Kunci utama dalam menulis adalah tulis saja, tidak perlu berpikir.

“A lot of writers know the rules about writing… but don’t know how to write” Banyak penulis yang mengetahui tentang aturan menulis, tapi mereka tidak tahu cara untuk menulis.

“The rule on “and” or “but”…  Some of the best writers have ignored that rule for years…” Aturan penggunaan kata Dan atau Tapi, beberapa penulis terbaik mengabaikan aturan tersebut selama bertahun-tahun.

Atau dialog lain seperti di bawah ini:

Unexpected gift, unexpected time! Hadiah yang tak diduga, di waktu yang tak diduga.

“Losing family obliques us to find our family. Not always the family that is our blood, but the family that can become our blood.” Kehilangan keluarga akan menuntun kita untuk menemukan keluarga yang baru. Bukan hanya yang berasal dari darah kita, tapi juga keluarga yang bisa menjadi darah kita.

Buat saya, film ini cukup menarik. Terutama saat Jamal gagal mencetak skor untuk kemenangan tim basketnya. Lalu, saat momen ulang tahun William Forrester di stadion Bronx, yang akhirnya mengungkap alasan mengapa penulis terkenal itu bersembunyi selama ini. Dan juga, adegan William Forrester yang mengajarkan Jamal mengetik untuk pertama kalinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s