Jangan Mengeluh!

Ada kalanya kita mengeluh dan menjerit kesal karena hidup tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan atau apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita perkirakan. Diam-diam melihat hidup orang lain, kayaknya enak. Tanpa hambatan, bisa menanjak terus. Sedangkan kita, sudah berjalan lurus tapi masih aja terjal dan berkelok-kelok. Rasanya capek, kesel, gak tau ah.

Padahal… dunia tak sesempit itu. Kita dikelilingi orang-orang dengan kehidupan yang beragam. Ada yang menutupi kesedihannya dengan gelak tawanya. Ada yang berlagak sombong untuk menutup kekurangannya. Ada yang berjuang mati-matian meski dirinya tampak tenang. Tanpa disadari, orang-orang itu ada di sekitar kita.

***

Sekitar lima tahun yang lalu, saya mengenal seorang anak perempuan. Tiap kali dia main, saya suka ngajakin ngobrol. Suatu waktu, dia tiba-tiba nyeletuk.

Oh ya, mbak. Orangtuaku udah meninggal lho.”

Hah?

Iya, udah meninggal.”

Oh ya, kenapa?” saya berpura-pura tidak tahu.

Sakit mbak”, anak itu menjawab sambil tersenyum, tanpa beban.

Saya mengangguk, mengiyakan.

***

Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan seorang anak perempuan di area bermain. Dia sedang asik bemain puzzle sendirian. Lalu saya dekati.

Tangannya kenapa, dek?”

Oh ini yah, mbak?” sambil menunjuk plester sambungan infus yang dilepas sementara, “Ini buat jalannya infus mbak.”

Emang adik sakit apa?”

Anak itu diam sejenak, lalu memandangi saya.

Hmm.. aku gak tau namanya. Kata ibu, darah merahku dimakan darah putih.”

Oh! Saya tidak berani bertanya lagi.

***

Tadi sore di rumah Budhe, saya bertemu dengan seorang anak perempuan, kira-kira usianya empat tahun. Setelah saya rayu dikit, akhirnya dia mau saya pangku dan ajakin main.

Di sela-sela mangku si bocah yang asik nonton video upin-ipin dari hp saya, saya mengelus-elus rambut kriwulnya dan mengusap pipinya karena saking gemesnya. Ada tanda lahir di sepanjang sisi kiri wajahnya.

Dulu, awalnya anak ini kaget Put?”

Kaget apa, Budhe?”

Dia kan ngeliatin wajahnya di kaca, terus tanya ke Ibunya ‘Bu, mukaku kenapa? Kok kotor?’ sambil diusap-usap gitu Put?”

Oh! Terus..?”

Yaudah, ibunya terus bilang ‘gak dek, itu cantik. Itu pemberian Allah’. Sok tegar ibunya, tapi di belakang yo nangis Put. Tapi alhamdulillah, anaknya pinter.”

***

Hem. Iya iya. Merasa kerdil karena saya si tukang ngeluh ini jika dibandingkan ketiga anak yang saya temui di atas. Tiap orang pasti punya ujian di dalam hidupnya. Tapi seberapa bijak kita dalam menyikapinya, itu tergantung masing-masing orangnya sendiri. Ketika hati sudah mulai kering dan iman yang kian padam, kita (khususnya saya) memang butuh diketok atau kalau perlu dijedotin ke tembok biar sadar. “Woy, Put! Sadar!! Sadar!!! Sadar!!!!”

Yaudah, yang jelas, yang penting tetap berusaha sekuat tenaga, berdoa sebanyak-banyaknya dan berserah pada hasil yang dibingkiskan oleh-Nya.

Semangat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s