Love is Stronger When a Fault is Forgiven

Love is stronger when a fault is forgiven (Ahok, 2017)

Tenang! Kali ini saya gak mau ikut-ikutan berkomentar tentang kasus penistaan agama yang menyebabkan lini perbedaan di negeri ini semakin meruncing. Karena dilihat dari segi manapun ilmu saya masih kurang dibandingkan yang lain. Jadi, daripada sok tau, saya ingin bercerita tentang hal lain saja.

Di antara goresan-goresan abstrak dan absurd yang ada di dunia ini, ada satu hal yang selalu menarik bagi setiap umat manusia untuk dibahas. Apa itu? Iya, CINTA. Coba aja bayangin, mulai dari bangun pagi kita pasti menemukan cinta seorang Ibu yang membuat sarapan untuk keluarganya, seorang bapak yang mengantar anaknya ke sekolah, seorang kakak yang membantu adiknya belajar. Sekarang, banyak musik, buku dan film yang isinya cinta-cintaan. Semuanya laris di pasaran. Hidup ini penuh cinta, kan?

Berawal dari tautan yang muncul di beranda Line, saya pun membaca berita tentang hasil putusan sidang Ahok (sabar.. sabar… gak mau bahas yang kasusnya kok). Nah, di situ kan Pak Ahok menolak banding dan keputusan itu disampaikan oleh Bu Veronika, istrinya. Saat membacakan suratnya Pak Ahok, Bu Vero sampai menangis sesenggukan. Saya yang melihat videonya jadi ikutan sedih. Gak tau, sedih aja.

Di artikel yang lain, Pak Ahok berkomentar tentang sang istri yang menangis saat membacakan suratnya. “… Pas habis dibacakan vonis, gua telepon Bu Vero buat ngasih tahu. Dia nangis langsung, dan gua senang. Kenapa? Artinya dia masih sayang sama gua, dan kesalahan gua yang ini langsung hilang di mata dia. Kalian tau kan, Love is stronger when a fault is forgiven.

Meski bukan cerita nyata, tapi saya juga tertarik dengan Aisyah yang berjuang mati-matian membela Fahri yang sedang difitnah (dalam Ayat-Ayat Cinta). Bayangin ya, pengantin baru, sedang hamil, suaminya difitnah menodai perempuan lain. Tapi, Aisyah masih percaya dan mendukung suaminya. HEBAT!

Seorang teman pernah berkata, “tau kenapa disebut ‘bahtera rumah tangga’?”, saya menggeleng, “Karena jalannya tak pernah semulus aspal dan lintasan pesawat di udara. Rumah tangga itu ada kalanya tenang, ada badainya, ada ombaknya baik itu kecil maupun besar, dan hal-hal yang tidak diprediksi lainnya.”

Kita tidak hanya butuh kapal untuk mengarungi lautan itu, tapi juga nahkoda yang handal. Yang tau caranya memimpin awaknya, tau kemana arah kapalnya akan melaju dan tau kapan jangkarnya diturunkan. Nahkoda itu suami, dan awaknya adalah istri serta anak-anaknya.”

Jika ada awak yang kurang sabar saat badai menerjang atau memilih hengkang saat kapalnya tengah salah haluan, kapalnya pun bisa tenggelam. Baik jadi nahkoda maupun awak kapal, semuanya butuh ilmu sebagai bekal saat badai dan ombak tengah mengancam kapal. Menjadi nahkoda harus tau tanggung jawabnya. Dan awak pun harus tau kodratnya.”

Saya mengangguk terus.

Benernya saya gak terlalu paham sih. Maklum saya kan masih belum berumah tangga, jadi ilmu dan pengalamannya gak ada. Hanya saja, saya merasa bahwa kodrat seorang perempuan adalah mengalah, mengabdi dan menerima.

Setiap orang pasti akan mendapatkan ujian, baik di kala suka maupun sedihnya. Dan bukan perkara yang mudah untuk tetap berdiri di samping pasangan yang sedang dalam masa susahnya. Tapi  bener kok, kesetiaan seorang suami diuji saat ia memiliki segalanya, sementara seorang istri diuji saat tak punya apa-apa. Jadi kalau kamu bertemu dengan orang yang tetap ada, gak hanya di saat kamu jaya, tapi di saat kamu juga terpuruk, tolong yah yang kaya gitu jangan dilepas. [ eaaa, opo ae put! 😀 ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s